Pemkab Blitar Akan Pasang Papan Peringatan Larangan Menambang di Aliran Lahar Kelud

Blitar, Pantau - Hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Blitar meminta warga tetap mewaspadai adanya lahar hujan pasca terjadi-nya erupsi Gunung Kelud,  Kamis, 13 Pebruari 2014 lalu. Warga di minta menjauh dari aliran kali lahar yang berhulu di Gunung Kelud. Namun berdasarkan pantauan Kasatpol PP Kabupaten Blitar, Toha Mashuri,  masih banyak warga yang hingga kini masih melakukan penambangan di sepanjang kali lahar. Bahkan pemerintah Kabupaten Blitar telah melakukan penertiban. Namun setelah ditertibkan, para penambang tersebut nekad kembali lagi untuk melakukan penambangan.
Toha Mashuri
Lebih jauh Toha Mashuri mengungkapkan, sampai saat ini sepanjang kali lahar berpotensi adanya lahar hujan. Untuk itu, dalam waktu dekat akan dilakukan pemasangan papan peringatan yang berisi larangan menambang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi, menyusul sampai saat ini status Kelud masih siaga atau level III.
Papan larangan tersebut akan dipasang di Kali Badak di Kecamatan Ponggok dan Nglegok, Kali Termas Lama di Kecamatan Wonodadi dan Udanawu, Kali Termas Baru di Kecamatan Udanawu, Kali Putih di Kecamatan Garum dan Gandusari, Kali Lekso di Kecamatan Gandusari, Wlingi, dan Selopuro, serta Kali Semut di Kecamatan Wlingi dan Gandusari.(wan/dir)

Disporbudpar Pastikan Situs Bersejarah Tidak Terdampak Erupsi Kelud

Blitar, Pantau - Meski Erupsi Gunung Kelud yang terjadi pada Kamis, 13 Februari 2014 malam mencapai ketinggian letusan sekitar 17 kilometer, dengan jumlah material yang dimuntahkan sekitar 100 juta hingga 120 juta meter kubik, tidak sampai mengakibatkan kerusakan situs-situs bersejarah di Kabupaten Blitar. Keterangan ini diungkapkan Kabid Kebudayaan Disporbudpar Kabupaten Blitar, Ahmad Irvan Santoso.
Menurut Irvan, eruspi Gunung Kelud tidak berdampak serius terhadap situs-situs bersejarah. Hanya ada beberapa bagian situs yang terkena krikil maupun abu, terutama yang ada di Blitar utara.  Untuk pembersihan material tersebut, Disporbudpar menurunkan sekitar 200 personil. Mulai dari juru kunci situs, paguyuban Gus Jeng, forum pemuda, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) serta seluruh karyawan Disporbdupar. Pembersihan dilakukan agar wisatawan nyaman saat mengunjungi obyek wisata situs bersejarah.
Berdasarkan data di Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Blitar, saat ini terdapat 32 situs bersejarah. Beberapa situs bersejarah yang dibersihkan dari material hasil erupsi Gunung Kelud meliputi Candi Penataran, Arca Bladak, maupun Arca Warak serta beberapa situs lainnya.(wan/dir)

Hingga Kini Banyak PNS Yang Belum Mempunyai Akte Kelahiran

Blitar, Pantau - Menurut keterangan Kabid Pencatatan Sipil Dispendukcapil Kabupaten Blitar, Edy Purwoko, di Jawa Timur setidaknya terdapat 64% PNS yang belum memiliki akte kelahiran. Untuk Kabupaten Blitar, Dispendukcapil mendorong PNS yang belum memiliki akte kelahiran segera melakukan pengurusan. Karena satu diantara syarat untuk pensiun menggunakan akte kelahiran. Lebih jauh Edi Purwoko mengatakan, Dispendukcapil siap untuk membantu PNS melakukan pengurusan sesuai dengan prosedur yang ada. Bahkan jika secara kolektif ada yang menginginkan mendapatkan sosialisasi soal kepengurusan akte kelahiran pihaknya siap untuk memfasilitasi.
Menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menggugurkan kewenangan pengadilan negeri mengadili permohonan akta kelahiran yang telah lewat 1 tahun, yang ditindak lanjuti dengan Surat Edaran MA No. 1/2013. dimana sejak 1 Mei 2013, pengadilan tidak lagi berwenang memeriksa permohonan penetapan akta kelahiran. Keputusan itu berimplikasi terhadap membanjirnya perm
ohonan akta kelahiran di Dispendukcapil Kabupaten Blitar. (dir)

Pemkab Blitar Anggarkan Sembako Bagi Pengungsi Kelud

Blitar, Pantau - Tidak hanya memberikan bantuan berupa bahan bangunan untuk memperbaiki rumah warga yang rusak akibat terkena hujan material muntahan Gunung Kelud, Pemkab. Blitar juga berencana memberikan bantuan sembako untuk pengungsi. Sekretaris Daerah Kab. Blitar Palal Ali Santoso mengatakan, bantuan sembako tersebut diberikan khusus untuk warga yang mengungsi di posko pengungsian selama status Kelud masih ditetapkan Awas.
Pemkab. Blitar mengestimasikan jumlahnya mencapai sekitar 11 ribu jiwa. Bantuan sembako diberikan karena pasca terjadinya erupsi Kelud dan warga kembali ke rumah masing-masing, warga belum dapat bekerja seperti biasa. Bantuan sembako akan diberikan untuk kebutuhan selama 1 minggu.
Mengenai jumlah anggaran yang dikeluarkan Pemkab. Blitar termasuk nilai bantuan sembako, belum dapat dipastikan. Sebab Pemkab. masih akan menghitung anggaran sesuai kemampuan APBD. Warga penerima akan didata kembali sesuai by name, by address di masing-masing rumah tangga.
Pemberian bantuan ini terlebih dahulu harus melalui mekanisme pengajuan melalui RT. Ini untuk menghindari agar bantuan tidak salah sasaran. Di sisi lain berdasarkan data Pemkab. Blitar, selain 11 ribu warga pengungsi, tercatat 53 ribu warga yang terdampak letusan Gunung Kelud. Jumlah tersebut meningkat dari perkiraan sebelumnya yang hanya 32 ribu jiwa. Ribuan warga terdampak Kelud itupun baru mereka yang tinggal di Kec. Ponggok, belum termasuk warga di 7 desa di Kec. Gandusari. (dir/wan)

Pemkab Blitar Belum Pastikan Bantuan Lahan Pertanian Akibat Erupsi G. Kelud

Blitar, Pantau – Abu Vulkanik Erupsi Gunung Kelud beberap waktu lalu tidak hanya berakibat pada rumah maupun jalan warga. Namun sejumlah tanaman yang ada di lahan pertanian terkena imbasnya. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, Eko Prio Utomo. Menurut Eko, meskipun lahan pertanain di 4 kecamatan yang terdampak erupsi Gunung Kelud seperti Kecamatan Nglegok, Garum, Ponggok, dan Gandusari, namun kerusakannya tidak signifikan.
kadis pertanian eko priyo utomo
Dari hasil pantaun yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, ada sekitar 5 ha yang terkena dampak erupsi Kelud, meskipun kondisinya tidak terlalu parah. Sementara soal ada tidaknya bantuan untuk lahan pertanian yang rusak akibat erupsi Kelud, Dinas Pertanian belum dapat memastikan. Karena masih akan mengajukan data kerusakan lahan pertanian ke SKPD terkait. Saat ini Dinas Pertanian masih melakukan pendataan untuk memetakan berapa jumlah total kerusakan lahan pertanian milik warga. (dir/wan)

Berseragam Sekolah, Dua Pelajar SMA Curi Motor

Blitar, Pantau - Meski usianya baru belasan tahun, namun keberaniannya berbuat jahat tak boleh dipandang sebelah mata. Hasil penyidikan petugas, ternyata dua pelaku yang masih berstatus pelajar sebuah SMK swasta di Kota Blitar itu sudah berulangkali mencuri.Untuk helm, mereka sudah mencuri lima kali, sedang sepeda motor baru sekali dan tertangkap selang beberapa jam dari aksinya. Mereka adalah Dk (15), warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, dan Fr (15), warga Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kab Blitar. Mereka adalah satu kelas, yakni sama-sama kelas 1. Mereka ditangkap di rumahnya masing-masing, Rabu (26/2/2014) malam pukul 21.00 WIB atau selang beberapa jam sehabis mencuri sepeda motor Yamaha Mio nopol AG 4751 SY. Itu tak lain milik Galih Raharjo (32), warga Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan, Kab Blitar. Sepeda motor itu dicuri saat diparkir di Jl Legundi, ketika ditinggal korban melihat simulasi pengamanan pemilu yang digelar petugas Polres Blitar Kota di lapangan Sananwetan tersebut, Rabu (26/2/2014) siang pukul 14.00 WIB.
“Saat menonton simulasi itu kunci sepeda motornya hilang sehingga korban memanggil tukang kunci. Namun, ketika balik bersama tukang kunci, sepeda motornya sudah tak ada,” kata AKP Slamet Riyadi SH, Kasat Reskrim Polres Blitar Kota, Kamis (27/2/2014).Menurut Slamet, saat ditangkap malam itu, Dk sedang mempreteli sepeda motor curian itu. Rencananya, itu akan dijual secara pretelan. Hasil penyidikan petugas, menurut Slamet, sebelumnya mereka telah mencuri helm sebanyak lima kali. Di antaranya, pada dua minggu lalu, mereka mencuri helm merek KYT yang ditaruh di atas sepeda motor, yang diparkir di depan apotik Jl Lawu, Kota Blitar. “Dalam aksinya mereka selalu berdua. Sebelumnya, juga telah mencuri helm di Jl dr Soetomo, di Jl Borobudur, di lapangan Sananwetan saat ada pertandingan sepak bola, di depan RSUD Mardi Waluyo,” ungkapnya.Terungkapnya kasus ini karena ada warga yang mengenali ciri-ciri pelakunya. Di antaranya, mereka memakai seragam sekolah. Memang kebanyakan aksinya selama ini dilakukan sehabis jam pulang sekolah. Modusnya, mereka berpura-pura menunggu temannya di tepi jalan sambil mencari mangsa. Begitu mendapatkan helm, mereka minta dijemput temannya yang membawa sepeda motor.
Salah satu pelajar yang tertangkap mencuri motor
Kepada petugas, mereka mengaku kali ini berani mencuri sepeda motor karena menemukan kunci sepeda motor terjatuh. Setelah dicobakan ke beberapa sepeda motor yang ada di TKP, ternyata kunci itu milik sepeda motor korban. Setelah ditunggu sampai penonton habis dan sepeda motor itu tetap berada di TKP, mereka mengembatnya. Padahal saat itu korban lagi bingung mencari tukang kunci. Begitu korban datang bersama tukang kunci, sepeda motornya sudah raib. (dir)

Popular Posts

Pengikut