Jalan Klemuk Dibeton, Anggaran 1,7 Miliar

Malang, Pantau - Akibat kerap rusak kendati juga sudah sering diperbaiki, fisik jalan alternatif Bukit Klemuk- Songgoriti, tahun ini bakal diperbaiki total. Dinas Pengairan dan Bina Marga Kota Batu, merencanakan mengganti aspal dengan beton jalan. Itu karena, kontur tanah di sepanjang jalan 1 Km dan lebar 6 meter itu, selalu  bergerak.
Jalan Klemuk Yang Rusak
Iwan Sufrianto, Kabid Bina Marga dari Dinas Pengairan dan Bina Marga Kota Batu menegaskan, program tersebut bakal dilaksanakan tahun ini, “ Kami sering mendapat keluhan bahwa Jalan Klemuk sering rusak parah, karena memang kontur tanahnya selalu bergerak, sehingga kami akan melakukan betonisasi jalan tersebut. Bila perbaikannya menggunakan aspal terus-terusan, tetap saja rusak karena lahan jalan bukan tanah padas,” jelasnya.
Rencananya, seluruh jalan mulai dari Jalan Songgoriti sampai persimpangan Desa Pandesari Kecamatan Pujon, bakal dibeton total. “ Pola ini meniru jalan tol, bawahnya lapisan beton cor namun atasnya tetap menggunakan aspal seperti jalan umumnya,” urai Iwan. 
Namun demikian, untuk memulai perbaikan tersebut, pihaknya masih harus melakukan survey yang meliputi penyeleksian aspal jalan. Jika kondisinya masih baik, maka akan langsung ditindih cor. Sebaliknya bila ada fisik jalan ada yang rusak berat, maka aspalnya dikelupas dulu baru dilakukan betonisasi.” Untuk proyek Jalan Klemuk, kami sudah menyiapkan anggaran Rp1,7 miliar,” pungkasnya.
Jalan Klemuk, tahun lalu  juga diperbaiki sebagai jalan alternatif bila ada longsor di Jalan Payung yang merupakan akses utama Batu-Kediri-Jombang. Menurut warga sekitar, jalan terabasan itu memang sering dilewati truk sehingga fisik jalan cepat rusak. Selain itu jika hujan datang, air langsung menutup jalan bukan mengalir lewat selokan. Kondisi inilah yang juga mempercepat hancurnya aspal jalan.(dir/wan)

Petani Batu Demo Kebijakan Impor Buah

Malang, Pantau - Sedikitnya 70 petani apel dari Kota Batu, Pasuruan dan Malang melakukan demo di depan Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta Pusat, Senin (24/2) kemarin. Demo tersebut sebagai aksi protes kebijakan Kementerian karena membuka kran impor buah hortikultura antara 600-700 ribu ton tahun ini.
Dari impr tersebut, khusus buah apel yang diimpor sekitar 200 ribu ton. Hal itu dinilai sangat merugikan petani lokal karena harga apel lokal tidak bisa naik sehingga harga jual tidak mampu mengangkat produksi petani-petani apel.
Aksi unjuk rasa dilakukan dengan sangat unik. Mereka membawa sekitar dua ton apel dari Batu dan sekitarnya ke Jakarta. Di Jakarta, buah apel itu dibuang di jalan dan sekitar sekitar lokasi kantor Kementerian. Malahan ada juga apel yang dibuang mengenai polisi, penjaga demo.
“Kami kecewa dengan kebijakan Menteri yang membuka kran impor buah apel dan hortikultura lain cukup besar. Kran impor itu akan merugikan petani seperti kami,” ungkap H Yulianto, petani apel asal Kota Batu yang ikut demo di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, ada empat orang perwakilan Kota Batu yang ikut aksi unjuk rasa di Jakarta itu. Mereka juga melakukan aksi seperti pocong dan tidur di atas buah apel yang sudah dibuang ke jalan atau sekitar kantor kementerian.
Aksi itu sebagai simbol bawah petani apel akan mati di atas produksi buah yang menumpuk. Mereka akan mati karena produksi melimpah dan tidak akan mampu terjual banyak dan harga yang sangat rendah.
Menurutnya, petani apel cukup menjual buah dengan harga kisaran Rp 4 ribu per kilogram jika buah impor cukup banyak. Mereka akan merugi karena ongkos produksi pertanian apel bisa mencapai Rp 7 ribu per kilogram untuk tidak merugi.
“Kami meminta impor hortikulura sekitar 200 ribu ton seperti tahun lalu. Kalau impor sekian, khusus apel sebanyak 65 ribu ton sehingga apel lokal masih mendapatkan tempat pada konsumen lokal,” tegas pria berdomisili di Bumiaji Kota Batu ini.
Petani apel Kota Batu datang ke Jakarta setelah bergabung dengan Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN). Aksi demo yang unik tersebut sangat mengundang perhatian dari warga ibukota hingga aparat keamanan yang menjaganya. (dir)

RW-RW di Sukun Penuh Semangat

Malang, Pantau - Tiga RW di Kelurahan Sukun peserta Lomba Kampung Bersinar, masing-masing RW 04, 05 dan RW 08, penuh semangat mengikuti Lomba Kampung Bersinar yang digelar Pemkot Malang.  Bahkan ketiga RW ini terus mengalami peningkatan di penilaian tahap kedua yang digelar hari Senin (24/2) kemarin.
Seperti di RW 08. Diakui tim juri kelompok II yang dipimpin Dharsono SA, wilayah ini banyak mengalami peningkatan. Diantaranya tanaman toga sudah ada di setiap RT. Padahal, jumlah RT di RW 08 ini mencapai 17 RT. “Toganya juga sudah bagus. Namun tanaman toga ini tidak hanya menanam saja tetapi juga tahu manfaatnya,” kata Dharsono.
Begitupula Bank Sam-
pah Malang (BSM), juga sudah banyak. BSM tidak hanya di tingkat RW namun hingga tingkat RT. “Alhamdulillah dari 17 RT, sepuluh RT sudah ikut BSM. Jumlahnya sudah cukup banyak,” kata Dharsono.Adapun tempat sampahnya sudah ada dua jenis, yakni tempat sampah basah dan tempat sampah kering.  Jumlah komposternya pun juga sudah lebih dari sepuluh.
Sementara itu di RW 05 kondisi penghijauhannya juga sudah lumayan bagus. Terbaik penghijauan ada di Jalan Gemak. Wilayah ini sangat rindang karena tanaman kerasnya serta tanaman hias yang cukup padat. Wilayah ini bisa dijadikan contoh di tempat-tempat lainnya.
Biopori juga sudah ada di beberapa tempat. Diharapkan, keberadaan biopori ini bisa merata di setiap RT. Semangat warga RW 05 juga cukup bagus. Dipimpin oleh Wakil Ketua RW Ahmad Dardiri, tim juri keliling seluruh wilayah RW 05.
Sementara itu di RW 04, semangat warganya ju-
ga cukup bagus. Hal ini terlihat banyak perkembangan di wilayah ini, terutama penghijauannya. Di beberapa gang, warga sudah menanam tanaman sayur-sayuran maupun ta-
naman hias.
Lomba Kampung Bersinar ini dibagi oleh dua tim juri. Tim Pertama yakni Dwi Swandayani (tokoh penggerak lingkungan dari RW 03 Sukun), Ir Joko Triwanto (Universitas Muhammadiyah Malang), Yan Edy Rajab (BSM), Djuwartiningsih (PKK Kota Malang) dan Jon Soeparijono (Malang Post). Sedangkan tim juri II terdiri Dharsono SA (Kader Lingkungan), Prof Tri Poespowati (ITN), Indra Murjiati (BSM), Luthfiyah Nurmala (PKK Kota Malang).(dir)

Tawaran Transmigrasi Lokal

Malang, Pantau - Agar warga di desa-desa wilayah Kecamatan Ngantang berdekatan dengan Gunung Kelud tidak jadi langanan letusan gunung berapi itu, Pemkab Malang punya gagasan menarik. Yakni, dengan merelokasi atau transmigrasi lokal ke kecamatan lain di wilayah Kabupaten Malang.
Rumah rusak karena abu gunung kelud
Namun demikian, tawaran tersebut belum secepatnya disampaikan kepada semua warga lantaran kondisi psikologis mereka masih labil paska erupsi Kelud, Kamis pekan lalu itu. “Kami akan lakukan pendekatan kepada mereka (warga korban Kelud) terlebih dahulu, tentang rencana pemerintah untuk merelokasi mereka dan  sejauh mana responnya,” jelas Bupati Malang, Rendra Kresna saat ditemui di Kantor Kecamatan Ngantang, Senin kemarin.
Bila relokasi itu memang disepakti warga, maka Pemkab Malang akan mengangsur untuk pengadaan tanah dengan target dalam setiap tahunnya bisa dianggarkan untuk relokasi  25 Kepala Keluarga (KK).
Cara lain untuk mempercepat pengadaan tanah relokasi itu, menurut Rendra, bisa didukung pula oleh perusahaan-perusahaan dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) agar setiap tahunnya bisa sampai 50 KK yang pindah.
Mantan Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Malang, ini menyontohkan lahan di daerah Kecamatan Wajak kesuburannya juga tak kalah dengan tanah di wilayah Kecamatan Ngantang. Bila hal itu rutin dilakukan setiap tahun, diyakini dalam 5 tahun sudah tidak ada lagi warga yang masih tinggal di lereng Kelud yang berjarak 5-6 Km dari Ngantang ini.
Pemkab Malang sendiri, telah menghitung ada sekitar 350 KK yang berada di lereng Kelud termasuk dusun-dusun yang dalam erupsi Kelud kali ini paling parah menerima dampaknya. Yakni, Dusun Mbales, Munjung dan Kutut Desa Pandansari, yang notabene lokasinya cukup berjauhan dengan fasilitas umum.
“Kalau tidak relokasi atau pindah, pasti setiap kali Gunung Kelud meletus mereka selalu terkena dampaknya,” tandas Rendra.
Diapun mengutarakan contoh lain, pemukiman di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo, juga sangat dekat dengan Gunung Bromo. Karena Bromo kerap kali meletus, maka warga pun bersedia pindah sehingga Sekarang terhindar dari abu vulkanik. Demikian pula dengan Kelud yang Sejas tahun 1000 sudah sering meletus, dan memang dampak paling parah baru terjadi tahun ini ke wilayah Ngantang.
“Menurut kami, bila warga tidak mau dipindah maka sewaktu-waktu Kelud bisa mengancam nyawa mereka. Apalagi warga sudah merasakan bahwa letusan tersebut, menyemburkan material batu, pasir dan abu vulkanik yang jumlahnya juaan kubik. Karena itu, cara terakhir adalah dengan merelokasi pemukiman,” pungkas Ketua DPD P Golear Kabupaten Malang ini.(kik)

Dewan Kecewa Pernyataan Lurah Ciptomulyo

Malang, Pantau - Menindaklanjuti polemik pencemaran limbah di kawasan Ciptomulyo, Senin (24/2) kemarin, Komisi A DPRD Kota Malang menggelar hearing dengan pihak-pihak terkait. Salah satu agenda hearing adalah meminta keterangan Lurah Ciptomulyo, Wahyudi Sudiono.
Kabarnya, sang lurah menyangsikan kesungguhan warganya yang belakangan melapor kepada Komisi A maupun Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Malang. Wahyudi bahkan menganggap sebetulnya masalah ini bukanlah masalah heboh yang perlu digembar-gemborkan.
Menurutnya, upaya perbaikan selalu dilakukan pihak kelurahan maupun pabrik jika ada yang salah dalam pengelolaan limbah. “Dulu, kami fungsikan saluran ini selama setahun juga tidak kenapa-kenapa. Pembuangan limbah lancar. Kalau sekarang kan memang ada pipa yang rusak, tapi segera ditangani,” tuturnya kala itu.
Dia justru khawatir ada oknum-oknum tertentu yang menunggangi masalah ini demi kepentingan pribadi atau golongannya. Sejauh ini, Wahyudi mengaku belum menerima surat keberatan yang ditandatangani bersama oleh warga. “Belum ada surat pengaduan tersebut. Seharusnya untuk legitimasi kan ada persetujuan warga. Saya takut jika masalah ini diangkat kembali sengaja demi kepentingan oknum tertentu,” timpalnya.
Pernyataan Wahyudi itulah yang cukup memekakan telinga Ketua Komisi A, Arief Wahyudi. “Saya sangat menyesalkan statement Lurah Ciptomulyo,yang menyangsik
an keberatan warga atas limbah, baik berupa pencemaran udara dalam hal ini bau yang tidak sedap maupun limbah cair yang ada di wilayah tersebut,” ujarnya kepada Malang Post.
Politisi PKB itu bahkan berani menjamin tidak ada oknum dalam masalah ini. “Yang ada adalah masyarakat yang merasa keberatan dan melakukan pengaduan secara prosedural.. Kalau ada yang bermain dalam kasus ini, maka akan kami tabrak dan akan dilindas oleh hukum,” tandasnya lugas.
Arief balik menuding ada yang tidak beres dari sikap sang lurah. “Justru saya khawatir apa yang dilakukan Lurah Ciptomulyo kontra produktif dengan apa yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini BLH yang saat ini sedang melakukan kajian dan solusi atas masalah itu. Dan dalam kesempatan hearing kedua nanti, saya akan klarifikasi pernyataan lurah kalau ada oknum maupun kepentingan kelompok tertentu dalam masalah ini. Saya minta untuk masalah ini lurah melakukan koordinasi dengan baik dengan atasannya atau dengan pihak BLH sebelum melakukan langkah-langkah lanjutan,” pungkas pria berkumis lebat ini. (kik/der)

Hindari Kesalahan, Diberi Pendamping

Malang, Pantau - Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Malang mengimbau pemberkasan K2 dilakukan tepat waktu. Para ho-
norer daerah yang lulus, wajib menyerahkan semua berkas yang disyaratkan. BKD tidak ingin kehilangan honorer daerah yang telah lulus, hanya karena masalah pemberkasan.
Hal itu dijelaskan Kepala BKD Kota Malang Drs. Sugiharto terkait mekanisme pemberkasan. Menurut dia BKD menghindari adanya peserta yang lulus, kemudian gugur karena berkas. Untuk itu, BKD akan memberikan asistensi kepada para peserta untuk menghindari hal itu.
Tes CPNS
“Prinsipnnya semua peserta yang lulus akan kita fasilitasi sampai berkasnya lengkap, jadi BKD akan memberikan asistensi,” tegas Pak Gi sapaan akrabnya.
Kenapa sampai harus diasistensi? Menurut Pak Gi, hal ini untuk mempermudah pengurusan berkas. Kemudian para peserta menjadi lebih cepat dan ringkas ketika datang ke BKD. Jika ada peserta yang gugur gara-gara berkas, maka yang rugi adalah Pemkot Malang.
“Kalau gugur, Pemkot sendiri yang rugi, karena formasinya tidak bisa digantikan dan secara otomatis akan hilang,” imbuhnya.
Artinya, jika ada 10 saja yang gugur, bisa diartikan Pemkot kehilangan 10 tenaga. Maka dari itu, asistensi akan ditekankan pada kelengkapan berkas. Apalagi para honorer daerah yang lulus, punya kesempatan panjang.
“Diajukan pada 3-14 Maret 2014 di kantor Badan Kepegawaian Daerah Kota Malang, jadi ada waktu cukup panjang,” ujarnya.
Selain itu BKD juga mengantisipasi adanya pemalsuan dokumen. Itulah fungsi dari pemberkasan bagi para honorer daerah yang dinyatakan lulus oleh BKN. Meskipun berkas mereka telah masuk ke BKD selama menjadi honorer daerah.
“Tugas kita bersama untuk saling mengawasi, semoga yang lulus merupakan peserta yang terbaik, baik kompetensi maupun kepribadiannya,” harap Pak Gi.
Dia kembali mengingatkan agar honorer mempersiapkan berkas penting. Salah satunya fotokopi keputusan atau bukti pengangkatan pertama sampai dengan terakhir sebagai tenaga honorer. Surat keputusan itu harus ditandatangani pejabat berwenang, paling rendah eselon II.
Kemudian menulis riwayat hidup yang ditulis tangan menggunakan tinta hitam. Dan yang tak kalah penting adalah surat bebas narkoba dari pihak terkait. Serta surat kartu kuning sebagai penanda pencari kerja dari Dinas Tenaga Kerja Kota Malang.Tak hanya itu, para honorer juga wajib menyertakan surat tak pernah dihukum. (kik/wan)

Polisi Tangkap PEmasok Narkoba Di LP Madiun

Madiun, Pantau - Petugas Satreskoba Polrestabes Surabaya, Jawa Timur membekuk 24 tersangka kasus narkoba, salah satunya merupakan pemasok barang haram itu ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Madiun. Tersangka pemasok itu bernama Aswan, warga Kemayoran, Surabaya.
“Tersangka Aswan ini juga residivis. Dia pernah ditangkap dalam kasus yang sama, yaitu mengedarkan narkoba,” ujar Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti di Surabaya, Kamis (26/9).
Suparti mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki jaringan Aswan di LP Madiun. Dia menjelaskan, tersangka terkenal licin dalam menjalankan aksinya.
“Dia (tersangka Aswan) pakai sistem ranjau. Kita belum tahu jaringan atau pemasoknya di Lapas Madiun, kita masih melakukan pendalaman,” kata Suparti.
Menurut Suparti, polisi menyita barang bukti sabu seberat 36,4 gram dan uang tunai Rp 500 ribu. Petugas menjerat pelaku dengan Pasal 114 dan Pasal 112 Undang-undang Narkoba.
“Selanjutnya, tersangka akan kami jerat dengan Pasal 114 ayat (1), Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang No 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman paling sedikit lima tahun kurungan,” tegas Suparti.(dir)

Popular Posts

Pengikut