![]() |
| Rumah rusak karena abu gunung kelud |
Bila relokasi itu memang disepakti warga, maka Pemkab Malang akan mengangsur untuk pengadaan tanah dengan target dalam setiap tahunnya bisa dianggarkan untuk relokasi 25 Kepala Keluarga (KK).
Cara lain untuk mempercepat pengadaan tanah relokasi itu, menurut Rendra, bisa didukung pula oleh perusahaan-perusahaan dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) agar setiap tahunnya bisa sampai 50 KK yang pindah.
Mantan Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Malang, ini menyontohkan lahan di daerah Kecamatan Wajak kesuburannya juga tak kalah dengan tanah di wilayah Kecamatan Ngantang. Bila hal itu rutin dilakukan setiap tahun, diyakini dalam 5 tahun sudah tidak ada lagi warga yang masih tinggal di lereng Kelud yang berjarak 5-6 Km dari Ngantang ini.
Pemkab Malang sendiri, telah menghitung ada sekitar 350 KK yang berada di lereng Kelud termasuk dusun-dusun yang dalam erupsi Kelud kali ini paling parah menerima dampaknya. Yakni, Dusun Mbales, Munjung dan Kutut Desa Pandansari, yang notabene lokasinya cukup berjauhan dengan fasilitas umum.
“Kalau tidak relokasi atau pindah, pasti setiap kali Gunung Kelud meletus mereka selalu terkena dampaknya,” tandas Rendra.
Diapun mengutarakan contoh lain, pemukiman di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo, juga sangat dekat dengan Gunung Bromo. Karena Bromo kerap kali meletus, maka warga pun bersedia pindah sehingga Sekarang terhindar dari abu vulkanik. Demikian pula dengan Kelud yang Sejas tahun 1000 sudah sering meletus, dan memang dampak paling parah baru terjadi tahun ini ke wilayah Ngantang.
“Menurut kami, bila warga tidak mau dipindah maka sewaktu-waktu Kelud bisa mengancam nyawa mereka. Apalagi warga sudah merasakan bahwa letusan tersebut, menyemburkan material batu, pasir dan abu vulkanik yang jumlahnya juaan kubik. Karena itu, cara terakhir adalah dengan merelokasi pemukiman,” pungkas Ketua DPD P Golear Kabupaten Malang ini.(kik)



0 komentar:
Posting Komentar